Pernahkah Anda mendengar tentang Hutan Kerangas? Nama “kerangas” berasal dari bahasa suku Dayak Iban yang berarti “tanah yang tidak dapat ditanami padi”. Sesuai namanya, hutan ini adalah salah satu ekosistem paling unik sekaligus ekstrim di Indonesia.
Mengapa ekstrem? Menurut data dari Forestdigest.com, sebagian besar hutan kerangas berada di Kalimantan dan tumbuh di atas tanah podsol yang sangat asam (pH berkisar antara 3–4). Karena miskin unsur hara, pohon-pohon di sini tidak bisa tumbuh besar dan tinggi seperti di hutan tropis pada umumnya. Bukan hanya itu, tantangan terbesar hutan kerangas adalah ancaman kebakaran. Sekali hutan ini rusak atau terbakar, ia akan sangat sulit untuk pulih kembali karena laju pertumbuhannya yang tergolong lambat.

Kondisi unik inilah yang dihadapi oleh OF-UK Indonesia bersama BKSDA Kalimantan Tenga h di site restorasi Suaka Margasatwa (SM) Lamandau. Lahan yang dikelola saat ini merupakan kawasan kerangas yang telah mengalami degradasi.
Lahan kerangas yang sudah rusak tidak akan pernah bisa pulih secara alami. Perlu intervensi manusia dan pengelolaan yang tepat. Tanpa formula yang pas, tingkat keberhasilan restorasi akan sangat rendah.
Untuk menjawab tantangan tersebut, OF-UK Indonesia bersama BKSDA Kalimantan Tengah menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) “Strategi Peningkatan Pertumbuhan Tanaman Restorasi di Suaka Margasatwa Lamandau”. Agenda ini dirancang khusus untuk meningkatkan kapasitas, pengetahuan, dan keterampilan tim di lapangan agar pemulihan ekosistem berjalan optimal dan berkelanjutan.

Kegiatan ini menghadirkan Bapak Agusti Randi, Department Head of Conservation and Restoration di Nusantara Climate Initiative, sebagai pembicara utama. Sesi materi berlangsung interaktif, mengupas tuntas segala hal tentang kerangas. Materi pertama adalah pengertian, sejarah, sebaran, karakteristik, hingga ancaman nyata terhadap kerangas. Kemudian dilanjutkan dengan membedah tahapan restorasi, mulai dari pemilihan spesies pohon prioritas, penentuan jarak tanam yang ideal, hingga daya dukung lahan untuk mendongkrak pertumbuhan tanaman.

Edukasi tidak berhenti di ruang kelas. Setelah jeda istirahat, peserta langsung terjun ke lapangan untuk mempraktikkan ilmu yang didapat. Mengingat tanah kerangas sangat miskin hara, pemberian nutrisi tambahan melalui kompos berkualitas adalah kunci keberhasilan.
Praktik diawali dengan pengenalan alat dan bahan, serta cara pembuatan kompos. Proses praktik meliputi membuat lubang tanam, lalu bibit ditanam. Setelah itu, membuat bedengan untuk kompos yang tersusun dari kayu papan. Selanjutnya pencampuran bahan mentah kompos (bakung, ampas tebu, sekam padi) diletakkan di dalam bedeng dengan dicacah dalam ukuran besar. Lalu EM4 dicampurkan dengan air untuk selanjutnya disiram ke bahan kompos tanaman yang sudah dicacah.


Sebelum kegiatan resmi ditutup, Bapak Agusti Randi menyampaikan pesan kepada seluruh peserta. Beliau menekankan bahwa keberhasilan bimtek ini bukan diukur dari selesainya acara, melainkan dari aksi nyata setelahnya. Beliau sangat berharap ilmu yang didapatkan bisa segera dipraktikkan di instansi masing-masing, dan dengan senang hati menantikan laporan perkembangan atau update dari hasil penerapan teknik ini di lapangan.